Tuesday, May 20, 2008

Aku Lebih Dulu ke Surga

> Aku tidak tahu dimana berada. Meski sekian banyak manusia berada
> disekelilingku, namun aku
> tetap merasa sendiri dan ketakutan. Aku masih bertanya dan terus
> bertanya,
> tempat apa
> ini, dan buat apa semua manusia dikumpulkan. Mungkinkah, ah ... aku
> tidak
> mau
> mengira-ngira.
>
> Rasa takutku makin menjadi-jadi, tatkala seseorang yang tidak pernah
> kukenal
> sebelumnya
> mendekati dan menjawab pertanyaan hatiku. "Inilah yang disebut Padang
> Mahsyar,"
> suaranya
> begitu menggetarkan jiwaku. "Bagaimana ia bisa tahu pertanyaanku,"
> batinku.
> Aku
> menggigil,
> tubuhku terasa lemas, mataku tegang mencari perlindungan dari
> seseorang
> yang
> kukenal.
>
> Kusaksikan langit menghitam, sesaat kemudian bersinar kemilauan.
> Bersamaan
> dengan itu,
> terdengar suara menggema. Aku baru sadar, inilah hari penentuan, hari
> dimana
> semua
> manusia akan menerima keputusan akan balasan dari amalnya selama hidup
> didunia.
> Hari ini
> pula akan ditentukan nasib manusia selanjutnya, surgakah yang akan
> dinikmati
> atau adzab
> neraka yang siap menanti.
>
> Aku semakin takut. Namun ada debar dalam dadaku mengingat amal-amal
> baikku
> didunia.
> Mungkinkah aku tergolong orang-orang yang mendapat kasih-Nya atau
> jangan-jangan
> ...
>
> Aku dan semua manusia lainnya masih menunggu keputusan dari Yang
> menguasai
> hari
> pembalasan. Tak lama kemudian, terdengar lagi suara menggema tadi yang
> mengatakan, bahwa
> sesaat lagi akan dibacakan daftar manusia-manusia yang akan menemani
> Rasulullah
> SAW di
> surga yang indah. Lagi-lagi dadaku berdebar, ada keyakinan bahwa
> namaku
> termasuk dalam
> daftar itu, mengingat banyaknya infaq yang aku sedekahkan. Terlebih
> lagi,
> sewaktu didunia
> aku dikenal sebagai juru dakwah.
> "Kalaulah banyak orang yang kudakwahi masuk surga, apalagi aku,"
> pikirku
> mantap.
>
> Akhirnya, nama-nama itupun mulai disebutkan. Aku masih beranggapan
> bahwa
> namaku
> ada dalam
> deretan penghuni surga itu, mengingat ibadah-ibadah dan perbuatan-
> perbuatan
> baikku.
> Dalam daftar itu, nama Rasulullah Muhammad SAW sudah pasti tercantum
> pada
> urutan teratas,
> sesuai janji Allah melalui Jibril, bahwa tidak satupun jiwa yang masuk
> kedalam
> surga
> sebelum Muhammad masuk. Setelah itu tersebutlah para Assabiquunal
> Awwaluun.
> Kulihat
> Fatimah Az Zahra dengan senyum manisnya melangkah bahagia sebagai
> wanita
> pertama yang ke
> surga, diikuti para istri-istri dan keluarga rasul lainnya.
>
> Para nabi dan rasul Allah lainnya pun masuk dalam daftar
> tersebut.Yasir dan
> Sumayyah
> berjalan tenang dengan predikat Syahid dan syahidah pertama dalam
> Islam.
> Juga
> para sahabat
> lainnya, satu persatu para pengikut terdahulu Rasul itu dengan bangga
> melangkah
> ke tempat
> dimana Allah akan membuka tabirnya. Yang aku tahu, salah satu
> kenikmatan
> yang
> akan
> diterima para penghuni surga adalah melihat wajah Allah. Kusaksikan
> para
> sahabat
> Muhajirin dan Anshor yang tengah bersyukur mendapatkan nikmat tiada
> terhingga
> sebagai
> balasan kesetiaan berjuang bersama Muhammad menegakkan risalah.
> Setelah itu
> tersebutlah
> para mukminin terdahulu dan para syuhada dalam berbagai perjuangan
> pembelaan
> agama Allah.
>
> Sementara itu, dadaku berdegub keras menunggu giliran. Aku terperanjat
> begitu
> melihat
> rombongan anak-anak yatim dengan riang berlari untuk segera menikmati
> kesegaran
> telaga
> kautsar. Beberapa dari mereka tersenyum sambil melambaikan tangannya
> kepadaku.
> Sepertinya aku kenal mereka. Ya Allah, mereka anak-anak yatim sebelah
> rumahku
> yang tidak
> pernah kuperhatikan. Anak-anak yang selalu menangis kelaparan dimalam
> hari
> sementara
> sering kubuang sebagian makanan yang tak habis kumakan. "Subhanallah,
> itu
> si
> Parmin tukang
> mie dekat kantorku," aku terperangah melihatnya melenggang ke surga.
> Parmin,
> pemuda yang
> tidak pernah lulus SD itu pernah bercerita, bahwa sebagian besar hasil
> dagangnya ia
> kirimkan untuk ibu dan biaya sekolah empat adiknya. Parmin yang rajin
> sholat
> itu, rela
> berpuasa berhari-hari asal ibu dan adik-adiknya di kampung tidak
> kelaparan.
> Tiba-tiba,
> orang yang sejak tadi disampingku berkata lagi, "Parmin yang tukang
> mie
> itu
> lebih baik
> dimata Allah. Ia bekerja untuk kebahagiaan orang lain." Sementara aku,
> semua
> hasil
> keringatku semata untuk keperluanku.
>
> Lalu berturut-turut lewat didepan mataku, mbok Darmi penjual pecel
> yang
> kehadirannya
> selalu kutolak, pengemis yang setiap hari lewat depan rumah dan selalu
> mendapatkan kata
> "maaf" dari bibirku dibalik pagar tinggi rumahku.
> Orang disampingku berbicara lagi seolah menjawab setiap pertanyaanku
> meski
> tidak
> kulontarkan, "Mereka ihklas, tidak sakit hati serta tidak memendam
> kebencian
> meski kau
> tolak."
> Masya Allah ... murid-murid pengajian yang aku bina, mereka
> mendahuluiku ke
> surga.
> Setelah itu, berbondong-bondong jama'ah masjid-masjid tempat biasa aku
> berceramah.
> "Mereka belajar kepadamu, lalu mereka amalkan. Sedangkan kau, terlalu
> banyak
> berbicara dan
> sedikit mendengarkan. Padahal, lebih banyak yang bisa dipelajari
> dengan
> mendengar dari
> pada berbicara," jelasnya lagi.
>
> Aku semakin penasaran dan terus menunggu giliranku dipanggil.
> Seiring dengan itu antrian manusia-manusia dengan wajah ceria, makin
> panjang.
> Tapi sejauh ini,belum juga namaku terpanggil. Aku mulai kesal, aku
> ingin
> segera
> bertemu
> Allah dan berkata, "Ya Allah,didunia aku banyak melakukan ibadah, aku
> bershodaqoh, banyak
> membantu orang lain, banyak berdakwah, izinkan aku ke surgaMu."
>
> Orang dengan wajah bersinar disampingku itu hendak berbicara lagi, aku
> ingin
> menolaknya.
> Tetapi, tanganku tak kuasa menahannya untuk berbicara.
> "Ibadahmu bukan untuk Allah, tapi semata untuk kepentinganmu
> mendapatkan
> surga
> Allah,
> shodaqohmu sebatas untuk memperjelas status sosial, dibalik bantuanmu
> tersimpan
> keinginan
> mendapatkan penghargaan, dan dakwah yang kau lakukan hanya berbekas
> untuk
> orang
> lain,
> tidak untukmu," bergetar tubuhku mendengarnya.
>
> Anak-anak yatim, Parmin, mbok Darmi, pengemis tua, murid-murid
> pengajian,
> jama'ah masjid
> dan banyak lagi orang-orang yang sering kuanggap tidak lebih baik
> dariku,
> mereka lebih
> dulu ke surga Allah. Padahal, aku sering beranggapan, surga adalah
> balasan
> yang
> pantas
> untukku atas dakwah yang kulakukan, infaq yang kuberikan, ilmu yang
> kuajarkan
> dan
> perbuatan baik lainnya.
> Ternyata, aku tidak lebih tunduk dari pada mereka, tidak lebih ikhlas
> dalam
> beramal dari
> pada mereka, tidak lebih bersih hati dari pada mereka, sehingga aku
> tidak
> lebih
> dulu ke
> surga dari mereka.
>
> Jam dinding berdentang tiga kali. Aku tersentak bangun dan,
> astaghfirullah...,
> ternyata
> Allah telah menasihatiku lewat mimpi malam ini.

No comments: