DUA SISI CINTA
Di ruang-ruang sejuk Kolam Penyembuhan
aku diajak bercengkerama
oleh sebuah sajak
Sajak yang bait-baitnya bercerita
tentang dua sisi cinta
yang satu terjalar dari belaian anak-anak Hawa
yang lain terpancar dari tatapan anak-anak Adam
Anak-anak Hawa mempersembahkan buah-buah ranum cinta
dari pohon kasih yang rindang di hatinya
Sedang anak-anak Adam mengejawantahkan cinta
dari gagasan-gagasan kasih yang terlukis dibenaknya
Sajak terhenti sejenak
menyeruput wedang jahe hangat yang kusodorkan
Cinta diutus turun ke dunia
dalam dua paruhan wujud yang berlainan
Antara keduanya berbeda
Hanya berbeda
Bukan salah satu lebih mulia
Hanya berbeda
Seperti halnya dua bilah perkakas
yang satu untuk membelah urat kayu
yang lain berguna memotong nadi pohon
Sajak mengakhiri dirinya
dan mengulur jabat permisi dengan bait
"Kedua paruhan itu ditetapkan
untuk saling berikat dengan tali kudus
menari dalam rampak yang sama
Menyempurnakan dan saling memperindah"
-----------------------------------------------------------------------
Contest of two sword
In swift running stream
Muramasa held his sword upright
Every dead leaf that drifted againts the edge
cut neatly in two
In swift running stream
Masume held his sword upright
The floating leaves avoided its edge
passing unhurt on either side
{which sword do you prefer?}
-----------------------------------------------------------------------
Pedang mengaung
memeluk dua tapak tangan
Dalam lingkaran
tarian gelombang tebasan
Hawa pedang tergugah
menggeliat di jiwa
mengikut aliran harmoni
dari pusat bumi ke ujung pedang
Badan menyatu dengan bilah
Jiwa lebur dengan hawanya
Aku
Pedang
Yang hawanya menebar jasad semesta
Bilahnya meretas kilap tempaannya sendiri
(Bukan shinai yang melecut
saat Inazuma meledak
Bokken pun tak pernah meninggalkan
gedan-no-kamae
Tsuka dari katana
tak pernah bersentuh genggaman)
-----------------------------------------------------------------------
Tuhan,
aku terjerembab
ulurkan tanganMu,
perniagaanku sekarat
-----------------------------------------------------------------------
Aku malu bicara cinta agung itu
sedangkan Ia tahu
untuk siapa saja cinta mekar dibatinku
Akupun tahu kematian adalah gerbang
yang mempertemukan kekasih dengan cintanya
tapi masih saja aku gemetar dikaki maut
Nantilah jika aku telah yakin akan cintaku
: bukan lagi hanya bercinta dengan kecintaan-padaNya
Nantilah jika aku telah berani mengundang
penebas segala lezat makan semeja denganku
Aku akan menyanyikan lirik lagu cintaNya
"Murnikan cintamu
CintaKu tak kan luput membidik"
Tuesday, May 20, 2008
Dua sisi cinta
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment